Selasa, 27 Juni 2017

TB Anak

"Menuju Nol Kematian Pada Anak Akibat TB"


TB salah satu penyebab kesakitan dan kematian yang sering pada anak. Anak lebiih beresiko untuk menderita TB berat seperti TB milier dan meningitis TB sehingga menyebabkan tingginya kesakitan dan kematian pada anak. Anak sangat rentan terinfeksi TB terutama yang kontak erat dengan pasien TB BTA positif. Anak dengan infeksi TB saat ini menunjukkan sumber penyakit Tb di masa depan. Beban kasus TB Anak di dunia tidak diketahui karena kurangnya alat diagnostik yang "child-friendly" dan tidak adekuatnya sistem pencatatan dan pelaporan kasus TB Anak. Diperkirakan banyak anak menderita TB yang tidak mendapatkan penanganan yang benar. lebih dari 1 juta kasus baru TB Anak setiap tahun. Pada 2010, terdapat 10 juta anak menjadi yatim piatu akibat orangtuanya meninggal karena TB.
Gejala TB pada anak tidak khas. Penurunan berat badan, lemah, letih, lesu merupakan gejala utama TB pada anak. Batuk pada anak jarang merupakan gejala utama TB pada anak. Pada anak dengan gejala utama batuk dan atau anak dapat mengeluarakan dahak WAJIB diperiksa dahak mikroskopis SPS. Apabila terbukti anak dengan BTA positif, maka anak tersebut termasuk sumber penularan bagi lingkungan di sekitarnya. Anak <3 tahun dan dengan malnutrisi atau kondisi immunosupresan memiliki resiko paling tinggi untuk menderita TB. TB terutama menyerang paru, tapi 20-30% Tb pada anak menyerang organ lain. Bayi dan balita paling beresiko terkena TB beerat seperti meningitis TB yang mampu menyebabkan buta, tuli serta kelumpuhan.

Situasi TB Anak di Indonesia Saat Ini


  • Proporsi TB Anak diantara semua kasus yang diobati di Indonesia dari tahun 2007 sampai 2013 berkisar pada 7,9% sampai 12%. Angka ini masih berada pada batas normal proporsi kasus TB anak diantara semua kasus.
  • Proporsi TB Anak diantara semua kasus yang diobati sangat bervariasa pada level Provinsi, Kabupaten/Kota sampai Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes).
  • Dari data tersebut menunjukkan kecenderungan adanya overdiagnosis, underdiagnosis maupun underreported kasus TB Anak.

Diagnosis TB Anak

Kendala utama tatalaksana TB pada anak adalah penegakkan diagnosis. Kesulitan menemukan kuman penyebab pada TB anak menyebabkan penegakkan diagnosis TB pada anak memerlukan kombinasi dari gambaran klinis dan pemeriksaan penunjang yang relevan. Diagnosis pada anak TIDAK BOLEH hanya
berdasarkan pada Foto Rontgen Dada.
Pendekatan diagnosis TB pada anak menggunakan sistem skoring yang disusun Kementerian Kesehatan bersama dengan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). Sistem skoring TB Anak merupakan pembobotan terhadap gejala, tanda klinis dan pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan di Sarana Pelayanan Terbatas. Masing-masing gejala pada sistem skoring harus dilakukan analisis untuk menentukan apakah termasuk dalam parameter sistem skoring.

Sistem skoring untuk mendiagnosis TB Anak di Indonesia adalah sebagai berikut:

Keterangan:
(*)   Gejala TB anak sesuai dengan parameter sistem skoring
(**) Pertimbangan dokter untuk mendapatkan terapi TB anak pada skor <6 bila ditemukan skor 5 yang terdiri dari kontak BTA positif disertai dengan 2 gejala klinis lainnya pada fasyankes yang tidak tersedia uji tuberkulin.

  • Pada anak yang pada evaluasi bulan ke-2 tidak menunjukkan perbaikan klinis sebaiknya diperiksa lebih lanjut adanya kemungkinan faktor penyebab lain misalnya kesalahan diagnosis, adanya penyakit penyerta, gizi buruk, TB MDR maupun kepatuhan berobat dari pasien. Apabila fasilitas memungkinkan, pasien dirujuk ke RS. Yang dimaksud dengan perbaikan klinis adalah perbaikan gejala awal yang ditemukanpada anak tersebut pada awal diagnosis.
  • Anak dengan pembesaran kelenjar tidak selalu menderita TB Anak. Pertimbangkan pertimbangan diagnosis yang lain misalnya infeksi leher, amandel dan keganasan. Pembesaran kelenjar leher yang mendukung gejala TB Anak bersifat tidak nyeri, multiple, diameter lebih dari 1 cm.
  • Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan pelayanan terbatas (misalnya tidak terdapat Uji Tuberkulin, Rontgen Dada) diperbolehkan mendiagnosis menggunakan Sistem Skoring, apabila terdapat keraguan maka dokter agar merujuk pasien ke fasyankes sekunder ( RS, BKPM, BBKPM).
  • Pemeriksaan Tuberkulin dilakukan pada anak dengan gejala TB untuk melihat adanya infeksi TB pada anak.
  • Pemeriksaan Tuberkulin menggunakan larutan Tuberkulin PPD RT 23 2TU.
  • Pemeriksaan Tuberkulin dapat dilakukan di Puskesmas, Rumah Sakit, BKPM dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
  • Hasil pemeriksaan Tuberkulin dapat diketahui setelah 48-72 jam sejak penyuntikan.
  • Larutan Tuberkulin yang sudah dibuka dapat digunakan sampai 1 bulan dengan memperhatikan cara penyimpanan, masa kadaluarsa, tindakan aseptik dan antiseptik saat pengambilan. Catat tanggal penggunaan larutan Tuberkulin untuk pertama kalinya.
          - Anak dengan hasil uji tuberkulin yang positif berarti anak tersebut terbukti terinfeksi TB.
            Untuk membuktikan apakah anak sakit TB, dokter menggunakan pendekatan sistem skoring.
          - Pemeriksaan serologis tidak diperbolehkan untuk diagnosis TB Paru maupun TB Ekstra Paru.
  • Penyuntikan Tuberkulin disusul dalam jejaring Fasyankes dan Fasyankes Rujukan Tuberkulin. Fasyankes Rujukan Tuberkulin dapat berupa Puskesmas, Rumah Sakit, BKPM/BBKPM. Fasyankes Rujukan Tuberkulin menerima rujukan dari Fasyankes untuk menyuntik Tuberkulin.

Bagaimana Mencegah Terjadinya TB pada Anak?


  • Anak sangat beresiko terkena TB terutama apabila terdapat kontak pasien TB menular (pasien biasa atau anak BTA positif).
  • Dengan mengobati setiap pasien TB BTA secara benar, berarti juga mengurangi resiko terjadinya TB pada anak.
  • Sistem imunitas pada anak juga mempengaruhi terjadinya infeksi atau sakit TB pada anak.
  • Vaksinasi BCG tidak dapat mencegah terjadinya penyakit TB pada anak, tetapi dapat mencegah timbulnya penyakit TB berat pada anak.

Apakah TB Anak dapat disembuhkan?

TB Anak dapat disembuhkan. Pengobatan TB pada anak membutuhkan waktu 6-12 bulan tergantung dari berat atau ringannya penyakit.

Apakah TB pada anak dapat menular kepada yang lainnya? 

Pada lokasi dengan banyak kasus TB Anak, yang terjadi adalah terdapat kasus TB dewasa BTA positif yang belum ditemukan dan diobati, sehingga menjadi sumber penularan ke anak yang tinggal berdekatan dengan pasien tersebut. Sebagian orang tua menganggap hal ini adalah kasus TB Anak yang menular ke anak lain.
Sebagian besar kasus pada TB anak tidak dapat menular ke anak yang lain, kecuali pada anak yang menderita "adult type TB" atau TB tipe dewasa, yaitu TB pada anak dengan gambaran menyerupai TB pada dewasa dan ditemukan BTA pada pemeriksaan dahak.

Fokus pada TB dan kehamilan

  • Wanita sangat rentan menderita TB selama kehamilan atau segera setelah meahirkan.
  • TB sering menjadi penyebab kematian pada kehamilan dan persalinan, terutama pada wanita dengan HIV pos.
  • TB pada kehamilan meningkatkan resiko bayi lahir prematur atau BBLR.
  • Sakit TB selama kehamilan meningkatkan resiko penularan baik TB maupun HIV kepada bayi.

Kewaspadaan TB Resisten Obat pada anak

Kasus TB resisiten obat terutama TB MDR yang mulai meningkat di Indonesia menyebabkan resiko terjadinya TB resisten obat pada anak.
Kewaspadaan terjadinya TB resisten obat pada anak pada kondisi sebagai berikut:
  • kontak dengan pasien terbukti MDR,
  • kontak dengan pasien TB yang resiko tinggi terjadinya TB MDR misalnya pasien Kambuh, Gagal, Default,
  • anak dengan riwayat pengobatan TB berulang,
  • anak yang tidak menunjukkan perbaikan klinis setelah 2-3 bulan terapi obat lini pertama,
  • diagnosis dan tatalaksana TB MDR pada anak sesuai dengan dewasa.

Mengapa TB pada anak terpinggirkan?

  • Kesulitan mendiagnosis TB pada anak. Anak sulit untuk berdahak, seandainya berdahak belum tentu TB.
  • Belum diketahuinya beban masalah TB Anak di masyarakat.
  • TB Anak dianggap tidak menular, sehingga bukan prioritas pengendalian TB.
  • Ketersediaan dana.
  • Kebanyakan anak yang terdampak TB adalah anak-anak miskin dengan kesulitan akses ke pelayanan kesehatan.

Upaya untuk "Menuju Nol Kematian Pada Anak Akibat TB"


Apa yang harus kita lakukan:
  1. Mulai melihat TB pada anak merupakan bagian dari penyakit keluarga. Anak terinfeksi TB dari orangtua atau keluarga yang tinggal serumah. Setiap kasus TB dewasa terutama BTA positif harus dilakukan pemeriksaan kontak serumah, terutama anak dibawah 5 tahun. Anan yang sakit TB harus segera didiagnosis dan diterapi OAT sedangkan anak tanpa sakit TB, baik terinfeksi maupun sehat yang kontak serumah dengan pasien TB BTA positif harus diberikan terapi INH profilaksis.
  2. Meningkatkan pelayanan TB dengan menjangkau semua masyarakat yang terdampak TB yaitu kaum urban, pekerja migrant, tahanan dan kaum minoritas ethnic. Dengan cara ini dengan dapat menjangkau semua bayi dan anak yang terdampak TB.
  3. Prioritas utama untuk anak dengan HIV pos.
  4. Integritas pelayanan kesehatan ibu dan anak, HIV dan TB secara bersama-sama.

http://www.tbindonesia.or.id/tb-anak/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar